Essay tentang ilmu administrasi publik

Kerja rasionalitas instrumental yang melulu fokus pada efektivitas dan efisiensi sarana tanpa refleksi dan justifikasi terhadap validitas dari tujuan yang dipilih sungguh berbahaya. Menunjukan bahwa masyarakat sebagai pusat perkembangan hukum tidak lain sebagai cikal bakal untuk lahirnya sebuah Undang, itu artinya terdapat essay tentang ilmu administrasi publik mazhab dalam pemikiran ilmu hukum yang berutang budi pada ilmu sosial yang memberinya sumbangsi pemikiran baru. Diantaranya: mazhab history – solidaritas mekanik yang merupakan ciri masyarakat dimana taraf pembagian kerjanya masih rendah dan sifat masyarakat relatif masih utuh.

Berawal dari uraian Max Weber yang membagi model perubahan sosial dalam tiga tahapan yaitu tipe masyarakat tradisional, habermas menekankan bahwa tiga bentuk rasionalisme yang berbasis pada ruang nilai harus bekerja sama dalam tindak komunikasi yang essay tentang ilmu administrasi publik essay tentang ilmu administrasi publik kesalingpahaman dan consensus. Undangan untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat yang terus mengalami perubahan.

Sebelum dikemukakan lebih jauh tentang perubahan sosial dalam makalah ini terkait dengan pengaruh dan relevansinya sebagai aspek pengubah hukum. Penting untuk menjelaskan lebih awal penamaan istilah yang tepat, tat kala teori-teori sosial hendak digunakan untuk mengkaji dan menganalisis asal muasal lahirnya hukum dalam makna Undang-Undang. Sejumlah pertanyaan-pertanyaan tersebut pada hakikatnya berada dalam ruang lingkup kajian ilmu sosial. Oleh karena fokus pembahasan dalam makalah ini hanya menggunakan teori perubahan sosial, berarti pisau analisisnya berada dalam segala pendefenisian, asal muasal, dan pengklasifikasian perubahan sosial. Sudah pasti menjadi pembanding untuk tatanan hukum sebagai sistem norma atau sistem aturan.

Makna perubahan sosial jika diletakkan berdiri sendiri, tanpa menjadi bahan penstudi hukum, pendefenisiannya beragam sebagaimana dikemukakan oleh sejumlah ahli sosiologi. Bahkan dalam hal paling ekstrim, ada yang memisahkan makna yang berbeda antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan. Berdasarkan dua pendapat tersebut, dapat ditarik kesimpulan awal atas makna perubahan sosial, poin utama yang terdapat dalam perubahan sosial, batas yang menjadi penanda diantaranya: terjadi perubahan struktur masyarakat, terjadi perubahan sistem sosial, terjadi perubahan nilai, sikap dan pola kelakuan dalam masyarakat bersangkutan.

Teori perubahan sosial bukanlah teori yang lahir secara tiba-tiba. Dengan serta merta dapat melahirkan defenisi dan batasan-batasan oleh para ahlinya. Sudah menjadi kelaziman, lengkap dan validitasnya sebuah teori berasal dari proses menyejarah yang terikat dalam ruang dan waktu. Bersamaan dengan itu pula, kadang-kadang ilmu yang berbasiskan pada kenyataan sosial tidak mengenal ketetapan dan keniscayaan. Dintara ahli terkemuka yang pernah menghabiskan waktunya, untuk meneliti dan menelaah masalah perubahan sosial terdapat nama seperti: Max Weber, Emil Durkheim, Talcolt Parson, dan Jurgen Habermas.

Memang dari keempat tokoh tersebut, melakukan penelitian di Barat, tetapi bukan hal yang salah jika hendak ditiru untuk negara bagian timur seperti Indonesia, untuk mencocokan metode dan eksprimen yang pernah dilakukannya dalam melahirkan sekelumit teori-teori. Kalaupun tidak cocok, paling tidak dapat menjadi perbandingan dalam studi selanjutnya untuk tempat yang berbeda.